The Stoning of Soraya M.

SORAYA

Tangisnya menggema dari Kuhpayeh, daerah pergunungan Isfahan, di Iran. Tentu saja dalam nada yang terbit dari celah-celah dosa yang kabur dan kemudiannya diampunkan; dia menjadi perempuan yang tak punya suara, yang wujud dalam lingkungan masyarakat setempat yang penindas. Tetapi aneh, masyarakat yang sama sekelilingnya itu merasakan Tuhan ada bersama-sama mereka untuk sebuah kekerasan yang tak terbayangkan; katanya, mereka menjalankan suruhan Tuhan.

Tetapi sayang, tindak keras itu terlalu membabi-buta, dan yang merelakan mereka meneruskan sebuah pembunuhan itu bukan Tuhan, tetapi serigala syaitan yang muncul dalam diri pengatur-pengatur naratifnya.

Soraya Manutchehri, seorang ibu beranak tujuh; hanya dalam usia 35 tahun. Tahunnya 1980-an, pada waktu Iran tergesa-gesa mengangkat Tuhan dan meletakkannya sebagai simbol di atas sebuah negara; pemerintahan Shah Reza Pahlavi tumbang, dan kemahsyuran Revolusi Iran – yang diteraju oleh imam-iman besar dengan panji Islam – mengambil tempat dalam perjalanan sejarah Iran yang baru ketika itu. Tetapi, tak semuanya berjalan dengan harum dan peri kemanusiaan. Yang kebetulan berada dikedudukan penguasa, semua ghairah untuk menjalankan apa yang mereka yakin sebagai hukum Tuhan.

– Obscura, edisi sulung. Bakal terbit 2012.

Advertisements
Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s