LANTAI

Aku melihat dengan tenang setompok
awan mendung datang berarak di atas kepala
membawakan sebuah pertanyaan untukmu;
sejak bila kau mahu memikirkan tentang kami?
Kata-kata yang kau ucapkan dulu masih belum
sampai ke ribaan tarikh luputnya lagi.

Angin semalam meliar
angin hari ini mengirimi debu;
membuat mata kami kepedihan
— tak ada kesedihan.

Bertahun-tahun kau membangunkan lantai yang begini
baru sekarang tersedar pincang, bila kakimu sendiri yang memijaknya?

Terhayun dalam oleng
yang menakutkan, menanti roboh;
tanpa malu-malu
tanpa menyebutkan maaf
sekarang kau minta kami, bersama-sama denganmu
merobah lantai ini menjadi yang baru; sekali lagi
menurut perkiraan dan pertimbangan citarasamu?

Jika benar, bagaimana kau tahu ia tak akan bergoncang dan mereput lagi?
Kami telah lama berjalan-jalan dengan lumpur yang terpalit di kaki, di muka
lantaimu itu tak terlalu mengghairahkan kami; ia hanya diperlukan
olehmu dan teman-temanmu
— untuk sampai kepadaku, di bawah ini.

Sedangkan, tangan-tangan kami inilah
yang perlu kau kotorkan demi lantaimu.

Andai kata, aku dan kekasihku sekalian
enggan meminjamkan tangan dan tenaga
kepadamu kali ini, akankah kau berani
untuk mengakui dosa-dosamu yang dulu
dan menyebutnya dengan rasa rendah hati?

Aku tak fikir begitu; sama-samalah kita
berjalan di dalam lumpur ini.

Kalau sampai kepenatan nanti
kita punyai dua pilihan;
untuk saling berbunuhan, atau boleh saja
— berhenti rehat untuk seketika.

Aku dan kekasihku tak memerlukan lantai baru.

 

 

Hafiz Hamzah
— 20 November 2016, Petaling Jaya. (Dewan Sastera, Mac 2017)

Advertisements
LANTAI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s